Kamis, 01 Agustus 2013

Friend and Happiness

Fanfiction lagi ...



Writer   : Myself
Cast       : Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Genre   : Friendship

                Hoamm… seharusnya aku bisa meneruskan mimpi indahku jika Baekhyun tidak menelpon tadi. Untuk apa juga dia menghubungiku dengan alasan tidak jelas yang dianggapnya masalah amat sangat penting itu. Kalau pun ini memang urusan hidup dan mati, tentu dia telah tiba dua puluh menit yang lalu.
                “Hei,” sapanya sambil menepuk pundakku.
                Aku pun hanya menyilangkan tanganku didada dan mengerucutkan bibirku.
                “Ayolah, jangan rusak rencana indah kita hari ini. Aku kan hanya telat, dua puluh menit,”             
                “Yup, hanya dua puluh menit,”
                “Maaf ya. Aku tidak tahu kalau dua puluh menit dan sedikit urusan penting lainnya cukup membuatmu kesal padaku. Maaf…”
                “Haha. Aku tidak pernah marah padamu kok, meskipun tadi sempat terpikir aku akan mengacuhkanmu selama beberapa hari kedepan. Hehe. Apa yang akan kita lakukan hari ini,”
                “Ah, aku tahu kamu tidak akan pernah marah padaku. Hari ini kita akan mempersiapkan hari bahagiaku dan aku harap akan menjadi hari bahagiamu juga,”
                Tentu saja. Semua kebahagiaanmu akan menjadi bahagiaku juga. Aku dan Baekhyun sudah bersahabat sejak lama. Kalau boleh dikatakan, aku mengenal sebuah persahabatan sejati karena Baekhyun. Persahabatan kami memang bukanlah persahabatan yang dibuktikan diatas sebuah janji dan darah, tapi kejujuran dan loyalitas tanpa batas kami cukup menjadi bukti kalau kami saling mendukung. Seperti halnya hari ini, secara tiba-tiba Baekhyun menelponku dan mengajakku ke sebuah toko perhiasan.
Ternyata Baekhyun berniat untuk mengambil perhiasan yang sudah dipesannya. Aku memang tidak menanyakan untuk siapa perhiasan itu, karena aku bukannya mau sok tahu dan pastinya Baekhyun akan memberitahuku nanti. Tapi aku yakin hari ini bukanlah hari ulang tahun kedua orang tuanya. Apa mungkin dia membelikannya sebagai hadiah kejutan untuk ibunya, boleh jadi. Atau mungkin hanya untuk investasi saja, mungkin saja. Apalagi kalau boleh dibilang harga emas kali ini cukup bagus kalau kita ingin memulai sebuah investasi masa depan.
Setelah perhiasan pesanannya sudah sesuai keinginan dan siap untuk dibayar olehnya, Baekhyun mengajakku mampir ke sebuah kafe di depan toko perhiasan tersebut. Kami berbincang seperti biasa, bercanda dan tertawa-tawa seperti orang gila.
“Apa kamu tahu, saat kamu pulang ke rumah orang tuamu kemarin malam, Tao dikerjain teman-teman,” kataku
“Oh ya? Apa kalian membiarkannya mandi sendiri?”
“Iya. Kami pun menambahi sedikit lelucon ke dalam rencana kami,”
“Ah, sayang sekali. Kenapa kalian tidak menungguku kembali?” ungkapnya menyesal.
Kami pun menertawakan bagaimana konyolnya sikap Tao hari itu sambil menyesap bubble tea kami. Tao memang seorang penakut. Ia tidak pernah berani untuk mandi sendiri, apalagi kalau malam hari. Ia selalu minta ditemani oleh orang lain. Anehnya, meskipun kekanakan tetapi ia adalah seorang yang jago bela diri tak kalah dari Bruce Lee ataupun Jet Li.
Disaat kami mencoba mengistirahatkan rahang dan tulang pipi kami yang kelelahan karena terlalu banyak tertawa, Baekhyun pun mengeluarkan kantong belanja yang didapatnya dari toko perhiasannya tadi. Sebuah kotak beludru pun ia keluarkan dari dalamnya.
“Ini adalah alasanku mengganggu tidurmu yang agung siang tadi,” kata Baekhyun mengawali pembicaraan kami. Kemudian ia pun membuka kotak tersebut, didalamnya terdapat sebuah cincin sederhana namun sangat indah.
“Ini indah sekali. Meskipun aku tidak pernah yakin dengan seleramu. Namun kali ini, aku akui ini sangat mengagumkan,” pujiku. Ia pun tersenyum senang dan membiarkanku menilai serta memuji perhiasan indah itu dari berbagai sudut. Ia juga tidak keberatan saat aku mengeluarkan cincin itu dari kotaknya dan mencoba untuk menilai keindahannya dibawah sinar matahari.
“Aku akan melamar Nayoung,”
                Deg…
                “Benarkah? Kapan?” tanyaku.
                “Malam ini. Setelah makan malam yang romantis tentunya. Hal itu pulalah yang menyebabkan aku terlambat hari ini. Kamu tahu, aku harus mempersiapkan segala hal hari ini. Aku sudah menyiapkan mini orchestra yang akan memainkan lagu romantis hanya untuk kami. Aku sudah memesan makanan luar biasa enak yang tidak akan pernah dapat aku ingat namanya dengan benar. Aku juga sudah menyiapkan sebuah lagu untuk dinyanyikan dihadapannya. Aku tidak akan gagal, kan?”
                “Tentu saja. Kamu tidak akan gagal. Aku yakin itu. Aku mendukungmu,”
                “Tapi bolehkah aku meminta bantuan kecil darimu? Tentu saja ini akan menjadi nilai tambah bagi kisah romantis hari ini,”
                “Apapun akan kulakukan,”
                “Maukah kamu memainkan gitarmu saat aku menyanyikan lagu nanti?”
                Aku pun hanya mampu tersenyum dan mengangguk singkat kepadanya. Berita pagi hari ini begitu mengagetkan dan sedikit menyakitkan. Tidak, mungkin menyakitkan saja atau bisa jadi sangat menyakitkan. Aku bukan tidak menyukai sahabat baikku bahagia. Aku juga tidak membencinya karena ia membiarkanku menjadi lajang sendirian sementara ia sudah siap melangkah lebih maju. Aku bahagia, ya, aku yakin aku sangat bahagia. Suatu kebahagiaan besar  bagiku untuk melihat seorang sahabatku dan cinta pertama yang aku sukai hingga saat ini akan menempuh suatu masa depan bersama.

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar